Beranda | Artikel
Kisah Pembunuh Para Nabi
19 jam lalu

Kisah Pembunuh Para Nabi adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 7 Muharram 1448 H / 22 Juni 2026 M.

Kajian Tentang Kisah Pembunuh Para Nabi

Permusuhan orang-orang Yahudi terhadap orang-orang yang beriman sangatlah keras. Karakteristik ini dinyatakan secara tegas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

“Sesungguhnya kamu akan mendapati manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS. Al-Maidah[5]: 82)

Melalui ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa orang-orang Yahudi menempati posisi sebagai manusia yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang yang beriman, dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebuah kebenaran yang mutlak.

Kesaksian Shafiyyah Binti Huyay Mengenai Kedatangan Rasulullah

Bukti mengenai watak asli tokoh-tokoh Yahudi dapat dicermati melalui sebuah riwayat dari Ummul Mukminin, Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab Radhiyallahu ‘anha. Beliau menceritakan masa kecilnya sebelum memeluk Islam, ketika beliau menjadi anak yang paling dicintai oleh ayahnya, Huyay bin Akhtab, serta pamannya yang bernama Abu Yasir. Di antara anak-anak yang lain, Shofiyah selalu mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang lebih diutamakan oleh ayah dan pamannya.

Kondisi tersebut berubah ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi waSallam melakukan hijrah dan tiba di kota Madinah, lalu singgah di daerah Quba, tepatnya di kediaman Bani Amr bin Auf. Mendengar kabar tersebut, Huyay bin Akhtab bersama Abu Yasir bergegas berangkat pada pagi-pagi buta untuk memastikan kabar tersebut.

Kedua tokoh Yahudi ini menghabiskan waktu seharian penuh di Quba dan baru kembali pulang saat matahari terbenam. Mereka melakukan pengamatan, analisis, serta penelitian mendalam untuk mencocokkan kebenaran tanda-tanda kenabian pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan teks yang ada pada kitab suci mereka.

Saat kembali ke rumah pada sore hari, keduanya tampak berjalan dengan gontai, lemas, dan diselimuti kelelahan yang amat sangat. Shafiyyah radhiyallahu ‘anha menyambut kedatangan mereka dengan gembira seperti biasanya. Namun, demi Allah, baik sang ayah maupun sang paman tidak ada yang menoleh sama sekali kepadanya karena pikiran mereka sedang dipenuhi oleh kegundahan yang mendalam.

Pengakuan Tokoh Yahudi Terhadap Kebenaran Taurat

Di tengah situasi tersebut, Shafiyyah radhiyallahu ‘anha mendengar percakapan rahasia antara pamannya, Abu Yasir, dengan ayahnya, Huyay bin Akhtab. Abu Yasir menanyakan kebenaran status kenabian pria yang baru datang tersebut, apakah dia benar-benar rasul yang ciri-cirinya telah mereka ketahui dan termaktub di dalam kitab Taurat.

Huyay bin Akhtab menjawab pertanyaan tersebut dengan menegaskan bahwa pria tersebut memang benar-benar rasul yang dinantikan. Abu Yasir menanyakan apakah Huyay bin Akhtab benar-benar mengetahui dan memastikan secara mutlak bahwa pria tersebut adalah nabi yang dijanjikan. Huyay bin Akhtab menjawab dengan penuh keyakinan bahwa pria tersebut memang benar seorang nabi.

Mendengar kepastian itu, Abu Yasir menanyakan kembali mengenai sikap dan langkah yang akan diambil oleh Huyay bin Akhtab terhadap keberadaan nabi tersebut. Huyay bin Akhtab memberikan jawaban yang mencerminkan watak aslinya dengan bersumpah atas nama Allah bahwa ia akan senantiasa memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama hayat masih dikandung badan.

Pernyataan ini merupakan sebuah persaksian yang otentik dari seorang tokoh yang memahami isi kitab Taurat. Sejarah mencatat bahwa nenek moyang bangsa Yahudi berbondong-bondong mendatangi dan menetap di kota Yatsrib yang kemudian hari menjadi Madinah karena mereka membaca petunjuk di dalam kitab Taurat bahwa nabi akhir zaman akan muncul di tempat tersebut.

Tingkat pengenalan mereka terhadap figur Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.” (QS. Al-Baqarah[2]: 146)

Sebagaimana seorang orang tua yang mengenali setiap detail fisik anaknya dari ujung rambut hingga ujung kaki tanpa ada kekeliruan sedikit pun, demikian pulalah bangsa Yahudi mengenali sifat-sifat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai penutup para rasul. Meskipun kepastian kenabian tersebut sudah jelas tanpa menyisakan keraguan sedikitpun, pemuka Yahudi seperti Huyay bin Akhtab justru memilih jalan penentangan dan memelihara permusuhan yang sangat kuat terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Bentuk-Bentuk Permusuhan Kaum Yahudi Terhadap Kaum Mukmin

Manifestasi dari permusuhan kaum Yahudi terhadap orang-orang yang beriman dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa poin implementasi berikut ini.

1. Ambisi Siang dan Malam untuk Memalingkan Umat Islam dari Agamanya

Kaum Yahudi memiliki semangat dan antusiasme yang sangat tinggi sepanjang siang dan malam untuk mengaburkan keyakinan umat Islam, dengan tujuan akhir mengembalikan kaum muslimin kepada kekafiran. Ambisi untuk memalingkan umat Islam dari koridor agamanya ini ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah[2]: 120)

Ayat tersebut memberikan rambu-rambu kepada kaum muslimin bahwa kaum Yahudi maupun Nasrani tidak akan pernah ridha kepada kaum muslimin sampai umat Islam bersedia meninggalkan agamanya dan beralih mengikuti ajaran mereka.

2. Kedengkian dan Rasa Sedih Atas Kebaikan yang Diterima Kaum Muslimin

Bentuk permusuhan yang kedua adalah munculnya rasa sedih, benci, dan tidak suka di dalam hati kaum Yahudi apabila melihat umat Islam mendapatkan limpahan kebaikan, pertolongan, maupun karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karakter pendengki ini diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Rabbmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 105)

Melalui petunjuk ayat ini, dipahami bahwa orang-orang kafir dari kalangan ahlul kitab bersama orang-orang musyrik menaruh kebencian atas setiap rahmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada kaum muslimin, padahal otoritas pembagian rahmat dan karunia yang besar berada mutlak di tangan Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah ‘Azza wa Jalla selaku Rabb seluruh manusia telah menegaskan mengenai ketidaksukaan musuh-musuh Islam terhadap kaum mukmin. Di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kaum mukmin untuk mengambil bithanah, yaitu teman setia atau orang kepercayaan, dari kalangan selain kaum mukminin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (QS. Ali Imran[3]: 118)

Melalui ayat ini dipahami bahwa musuh-musuh Islam senantiasa menginginkan kesusahan menimpa kaum mukmin. Meskipun kebencian nyata telah tampak dari lisan-lisan mereka, sesungguhnya apa yang mereka sembunyikan di dalam dada jauh lebih besar.

Terdapat keanehan dalam sikap sebagian kaum mukmin yang menaruh rasa cinta kepada mereka, padahal mereka sama sekali tidak mencintai kaum mukmin, padahal kaum mukmin telah beriman kepada seluruh kitab suci. Orang-orang tersebut juga kerap melakukan kebohongan. Apabila berjumpa dengan kaum mukmin, mereka mengaku beriman. Namun, apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari karena merasa sangat marah dan murka terhadap kaum mukmin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ ۚ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” (QS. Ali Imran[3]: 119)

Karakter dasar musuh-musuh Islam yang dipenuhi kedengkian senantiasa tecermin pada suasana hati mereka ketika melihat kondisi kaum mukmin. Mereka merasa sedih hati apabila kaum mukmin mendapatkan kebaikan, sebaliknya mereka akan merasa sangat senang apabila kaum mukmin ditimpa musibah atau kesusahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan hal tersebut:

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا ۖ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu ditimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran[3]: 120)

Jalan keluar utama untuk menghadapi dan selamat dari segala bentuk tipu daya musuh-musuh Islam adalah dengan senantiasa bersabar dan bertakwa. Ketakwaan diwujudkan dengan cara menjalankan seluruh perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi segala larangan-Nya. Solusi ini didasarkan pada petunjuk syariat, bukan dengan cara-cara pergerakan yang menyimpang maupun fanatisme golongan. Ketika kesabaran dan ketakwaan telah terpatri di dalam diri, maka tipu daya musuh tidak akan mampu mendatangkan kemudharatan sedikitpun, karena pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi segala hal.

3. Praktik Haram Kaum Yahudi: Memakan Harta Batil dan Riba

Bentuk permusuhan kaum Yahudi yang ketiga adalah kebiasaan mereka memakan harta manusia dengan cara yang batil serta tindakan mereka dalam menghalangi manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akibat kezaliman dan tindakan menghalangi jalan kebenaran tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan berbagai makanan baik yang semula dihalalkan bagi mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لهمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah.” (QS. An-Nisa[4]: 160)

Di antara hal baik yang diharamkan bagi mereka adalah sebagian jenis lemak hewan. Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan mengenai keterlibatan mereka dalam praktik riba yang sangat dilarang:

وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS. An-Nisa[4]: 161)

Kaum Yahudi dikenal sebagai kelompok yang sangat ahli dalam urusan riba, meskipun larangan keras mengenai praktik tersebut telah diturunkan kepada mereka melalui syariat.

Meskipun syariat telah melarang secara tegas, kaum Yahudi tetap menjalankan praktik memakan harta manusia dengan cara yang batil. Sifat dan perilaku mereka sebagaimana yang telah disifati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam kitab-Nya menunjukkan bahwa mereka senantiasa memerangi umat Islam dari berbagai lini kehidupan. Pola serangan tersebut dilancarkan melalui sektor keagamaan, kekuatan militer, sistem perekonomian, hingga perusakan tatanan akhlak.

Salah satu target utama mereka adalah menjauhkan umat Islam dari nilai-nilai akhlak islami. Oleh karena itu, umat Islam berkewajiban untuk memegang teguh akhlak dan adab Islam dalam segala urusan, serta menjadikannya sebagai adat istiadat dalam kehidupan sehari-hari.

Implementasi adab tersebut mencakup hal-hal mendasar seperti kebiasaan makan menggunakan tangan kanan, hingga penegakan adab islami dalam penyelenggaraan acara pernikahan. Di dalam walimah yang islami, konsep pemisahan ruang antara tamu laki-laki dan perempuan wajib ditegakkan, serta tidak menggandengkan pasangan yang belum halal.

Pihak panitia penyelenggara pernikahan juga dituntut untuk memahami tuntunan Islam dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar tidak membuat aturan baru yang mengarah pada perbuatan bid’ah. Tata cara seperti pengucapan doa sembari memegang kepala istri tidak sepatutnya dipertontonkan di hadapan khalayak ramai maupun kamera saat acara berlangsung, melainkan cukup dilakukan di dalam kamar pengantin. Kelalaian panitia dalam menjaga batas-batas syariat ini dikhawatirkan dapat menjadi teladan yang buruk yang berbuah dosa.

Seluruh upaya perusakan tatanan nilai yang dilancarkan musuh-musuh Islam tersebut bermuara pada satu tujuan akhir, yaitu mengembalikan kaum muslimin kepada kekafiran dan mengeluarkan mereka dari lingkaran Islam. 

Karakter Pengkhianat dan Kerasnya Hati Kaum Yahudi

Karakteristik menonjol lain yang melekat pada kaum Yahudi adalah watak gemar berkhianat dan culas. Sepanjang lembaran sejarah, mereka dikenal sebagai kaum yang tidak pernah menghormati ikatan perjanjian maupun kesepakatan yang telah dibuat. Sejarah kelam masa lalu hingga realitas kontemporer menjadi saksi nyata atas tabiat mereka yang gemar melanggar kesepakatan gencatan senjata dan tetap melancarkan peperangan kepada pihak-pihak yang tidak bersalah.

Konsekuensi logis dari kebiasaan melanggar janji ini telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبُهُمْ قَاسِيَةً

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (QS. Al-Maidah[5]: 13)

Pelanggaran terhadap perjanjian komitmen berakibat pada turunnya laknat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala serta dikuncinya hati mereka menjadi keras membatu. Karakteristik ini menjadi peringatan bagi umat Islam agar senantiasa waspada dan berhati-hati ketika menjalin kesepakatan dengan mereka.

Kesaksian Keislaman Abdullah Bin Salam

Kaum Yahudi juga dikategorikan sebagai kaum buhtaan, yaitu kaum yang gemar memproduksi kebohongan dan suka mengada-adakan kedustaan. Fakta mengenai karakter buruk ini dikabarkan secara langsung oleh salah seorang mantan pendeta mereka yang bernama Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan hijrah dan tiba di kota Madinah, Abdullah bin Salam datang menemui beliau untuk mengajukan beberapa pertanyaan mendalam mengenai perkara-perkara yang tidak mungkin diketahui kecuali oleh seorang nabi utusan Allah.

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan jawaban yang tepat dan akurat atas seluruh pertanyaan tersebut, Abdullah bin Salam langsung meyakini kebenaran kenabian beliau dan menyatakan diri masuk Islam. Lembaran sejarah emas seperti kisah keislaman ini menjadi bukti yang sangat kuat bahwa agama Islam merupakan kebenaran mutlak, dan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi waSallam adalah haq tanpa ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Setelah mendapatkan jawaban dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai perkara-perkara yang hanya diketahui oleh seorang nabi, Abdullah bin Salam menyatakan keislamannya tanpa ada keraguan sedikit pun. Usai bersyahadat, beliau memberikan peringatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai tabiat asli kaumnya dengan menyatakan bahwa bangsa Yahudi merupakan kaum yang gemar berdusta dan suka mengada-adakan kebohongan.

Sebagai orang yang memahami kitab Taurat dan mengetahui karakter kaumnya sendiri, Abdullah bin Salam memprediksi bahwa apabila orang-orang Yahudi mendengar kabar tentang keislamannya, mereka pasti akan langsung mendustakan, mengejek, serta menjatuhkan kehormatannya.

Atas dasar pertimbangan tersebut, Abdullah bin Salam memohon kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar menyembunyikan status keislamannya terlebih dahulu dari jemaah Yahudi. Beliau menyarankan sebuah strategi, yaitu agar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengundang para pemuka Yahudi datang dan menanyakan kedudukan dirinya di mata mereka sebelum fakta keislamannya terungkap. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyetujui usulan tersebut, sementara Abdullah bin Salam bersembunyi di dalam rumah.

Ketika para tokoh Yahudi datang memenuhi undangan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajukan sebuah pertanyaan mengenai sosok Abdullah bin Salam di kalangan mereka. Tanpa ragu, lisan para pemuka Yahudi tersebut langsung melontarkan berbagai macam pujian yang sangat tinggi.

Mereka menyatakan bahwa Abdullah bin Salam adalah pemimpin mereka sekaligus putra dari pemimpin mereka. Mereka juga menegaskan bahwa beliau merupakan orang yang paling alim atau ulama di antara mereka, putra dari ulama mereka, serta manusia terbaik sekaligus putra dari orang terbaik di kalangan mereka. Seluruh pujian tersebut keluar secara spontan dari lisan orang-orang Yahudi untuk menggambarkan kedudukan mulia Abdullah bin Salam sebelum mereka mengetahui bahwa beliau telah memeluk Islam.

Mendengar pengakuan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan pertanyaan dengan meminta pendapat mereka seandainya Abdullah bin Salam memilih untuk masuk Islam, serta menanyakan apakah mereka juga bersedia mengikutinya untuk memeluk Islam. Orang-orang Yahudi tersebut dengan tegas menolak kemungkinan itu dan mendoakan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi Abdullah bin Salam dari perbuatan tersebut. Mereka sangat meyakini bahwa Abdullah bin Salam tidak akan pernah mau masuk Islam.

Mendengar penegasan dari orang-orang Yahudi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian memerintahkan Abdullah bin Salam untuk keluar dari tempat persembunyiannya menemui mereka. Abdullah bin Salam langsung keluar menghadap kaumnya lalu mengikrarkan syahadat secara lantang di depan mereka semua:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

“Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Seketika setelah mendengar ikrar syahadat tersebut, sikap para pemuka Yahudi langsung berubah drastis seratus delapan puluh derajat. Mereka yang awalnya memuji setinggi langit, langsung berbalik mencela dengan menyatakan bahwa Abdullah bin Salam adalah orang yang paling buruk di antara mereka, manusia yang paling bodoh, serta putra dari orang yang paling bodoh di kalangan mereka.

Seketika setelah menyaksikan pembalikan sikap kaumnya, Abdullah bin Salam radhiallahu ‘anhu mengonfirmasikan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kejadian tersebut membuktikan kebenaran perkataan sebelumnya bahwa kaum Yahudi merupakan kaum yang gemar berdusta, suka mengada-ada, dan gemar berbohong. Perubahan penilaian mereka yang begitu cepat terhadap satu personil, dari predikat manusia terbaik menjadi manusia paling buruk, merupakan pelajaran berharga mengenai hakikat tabiat mereka.

Rujuk kepada Allah Sebagai Kunci Kemenangan Utama

Pelajaran terpenting yang diuraikan oleh penulis berkaitan dengan rumusan cara untuk meraih kemenangan atas kaum Yahudi yang memiliki karakter pengkhianat, culas, dan pendusta. Formulasi untuk meraih pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dapat menang atas mereka dijabarkan melalui beberapa poin penting berikut ini.

Langkah pertama dan paling mendasar adalah dengan kembali atau rujuk kepada Allah Ta’ala. Konsep kembali kepada Allah Ta’ala diwujudkan dengan cara memurnikan peribadatan hanya kepada-Nya semata serta menjauhi segala bentuk perbuatan syirik.

Apabila seorang hamba telah memurnikan ibadahnya dengan benar dan serius, hal itu menandakan bahwa ia telah menolong agama Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam dirinya sendiri. Manakala pertolongan terhadap agama Allah Subhanahu wa Ta’ala telah ditegakkan di dalam diri, di lingkungan rumah tangga, serta di tengah kehidupan masyarakat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan menurunkan pertolongan-Nya.

Keberhasilan ini didasarkan pada prinsip bahwa pertolongan itu murni datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, bukan bersumber dari kekuatan blok timur maupun blok barat. Umat Islam harus menyadari kelayakan dirinya untuk pantas menerima pertolongan tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan kausalitas pertolongan ini di dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad[47]: 7)

Prinsip tersebut dipertegas lagi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai mutlaknya otoritas pertolongan di tangan-Nya:

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolongmu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali Imran[3]: 160)

Bukti Sejarah Pertolongan Allah dalam Berbagai Peperangan

Sejarah Islam telah mencatat dengan tinta emas bahwa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi faktor tunggal penentu kemenangan kaum muslimin dalam berbagai fragmen peperangan, meskipun secara matematis jumlah pasukan tidak seimbang.

1. Perang Badar

Faktor penentu yang memenangkan kaum muslimin dalam Perang Badar di saat jumlah mereka sangat sedikit dan tidak seimbang dengan pasukan kafir adalah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Fakta sejarah ini diabadikan di dalam Al-Qur’an:

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertawakallah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali Imran[3]: 123)

2. Perang Hunain

Pihak yang memberikan pertolongan dan memenangkan kaum muslimin saat menghadapi ujian berat di Perang Hunain adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Catatan sejarah mengenai peristiwa ini termaktub di dalam Al-Qur’an:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan laga yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain.” (QS. At-Taubah[9]: 25)

3. Perang Ahzab (Khandaq)

Yang menolong dan menyelamatkan kaum muslimin dari kepungan ketat pasukan sekutu kafir yang menyerbu kota Madinah pada Perang Ahzab adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا

“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu bala tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin taufan dan bala tentara yang tidak dapat kamu melihatnya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 9)

Melalui ayat ini jelas bahwa hakikat pemenang sejati adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesadaran ini menuntut umat Islam untuk memperkuat keimanan. Sebagai contoh sejarah, Nabi Nuh ‘alaihissalam memohon melalui doa tanpa memiliki kekuatan fisik, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menghancurkan kaum yang ingkar dengan mengirimkan air bah. Oleh karena itu, umat Islam harus senantiasa mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak membanggakan kekuatan fisik, kuantitas, maupun pengetahuan diri, melainkan mengembalikan seluruh urusan kepada-Nya.

Sikap merasa bangga terhadap jumlah pasukan yang banyak justru pernah menjadi penyebab renggangnya hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti yang terjadi pada awal Perang Hunain. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan peringatan mengenai peristiwa tersebut:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan laga yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi sombong karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun.” (QS. At-Taubah[9]: 25)

Peringatan dari peristiwa Perang Hunain mengisyaratkan bahwa umat Islam tidak boleh terlena sekadar oleh jumlah yang banyak. Realitas saat ini menunjukkan adanya fenomena jamaah pengajian yang masif namun kualitas pengamalan sunnahnya masih kosong. Semangat belajar mengalami penurunan akibat ketergantungan pada media instan.

Banyak orang pada masa kini mencukupkan diri belajar agama melalui tayangan singkat berdurasi dua atau tiga menit di platform YouTube atau TikTok. Pola belajar instan tersebut memicu rasa puas diri yang semu, seolah-olah telah memahami segala hal, sehingga enggan untuk kembali duduk bersusah payah di dalam majelis ilmu. Menuntut ilmu agama yang benar membutuhkan kesungguhan, pengorbanan, serta aktivitas mencatat, bukan sekadar mendengarkan sambil rebahan. Kemenangan dan pemahaman yang berkah mutlak datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tauhid Sebagai Sandaran Mutlak Umat Islam

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa mengakui bahwa segala bentuk kemenangan merupakan murni karunia nikmat dari Rabbnya. Pengakuan tauhid tersebut tercermin di dalam kalimat yang beliau ucapkan:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

“Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, Yang menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, memuliakan tentara-Nya, dan menghancurkan pasukan sekutu dengan sendirinya.” (HR. Abu Dawud)

Berdasarkan teladan tersebut, umat Islam diwajibkan untuk selalu mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala serta dilarang keras mengandalkan kekuatan kuantitas maupun perlindungan dari makhluk. Ketergantungan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan memberikan manfaat sedikitpun di hadapan-Nya.

Apabila seorang hamba menggantungkan harapan dan bersandar kepada makhluk, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berlepas diri dan membiarkan orang tersebut tersesat bersama apa yang ia pegang. Pelajaran tauhid ini sangat mendasar bahwa jalan keselamatan dan kemenangan hanya dapat ditempuh dengan cara kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla melalui pemurnian ibadah dan mentauhidkan-Nya secara kaffah.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajianKisah Pembunuh Para Nabi” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56359-kisah-pembunuh-para-nabi/